Phatic communication is a universal use of language. Any language in the world has this usage. It is mainly used for social interaction. Among Indonesian people, the phatic communication is called basa-basi. Among indigenous people in Indonesia such term is also nearly called alike, for example the Minangkabau and Mandailing Batak people call it baso-basi, Riau-Malay people call itu base-basi, and Javanese people call itu bosa-basi, and so forth, nothwithstanding many other cultural group refer to similiar term in different expression. Those people even use more phatic communication to interact each other.
Basa-basi is affluently used in many places. You may find people employ this at home, at school, in public places such as in the super market, in worship places or in the tourist area, even in personal correspondence, talk show in TV, Radio, reunion, birthday party, etc. For short, people use it in outdoor or in-door places, and in media. When you visit some people for instance you may hear to many of words of basa-basi. The house lady may ask you to sit back and say, wait for a moment, I’ll be back. It means that she would offer you some drink or meals. As Indonesian you may respond right away by saying, Jangan repot-repot, don’t let you be busy about serving me some drink or meals. Even you inevitably apply the utterances. One another offers and gives the sweet nothings for politeness. When the drink or meals have been served, the house lady please the guest to drink and taste the meals, “Silahkan, jangan malu-malu”. The late utterance hardly transpose into English. The equivalence might just refer to barely as please, have a drink or meal., albeit there is a courtesy sense missing in the equivalence. The basa-basi goes to many other types, caring, complimenting, thanking, until partings.
Functions of Phatic Communication
In essence of general function of language, the phatic function serves to build up and keep social interaction stable. To build up a social bond, people choose basa-basi for introducing someone to someone else. People may address people from Minangkabau by calling uda or uni, from Batak by using Abang or Kakak, or from Java by addressing Mas/ Kang or Mbak which respectively mean brother or sister in terms of honorifics and for the use of comity. The people, then, go to say how are you, where do you stay, where do you go to school, or where do you go to work. To some extent, these sound simple to Indonesian, but not really the same as those of English. Asking address for early recognition sound unfamiliar to English people. To keep social interaction stable, the relation might maintain to by saying Mau ke mana, dari mana? Lagi ngapain, etc when those recognized people come across by. They sometimes have to have chit-chat or small talks first before parting instead. When no use of basa-basi among them, it may have to ask for what is going on in case. If someone has frequent encounterings without talking would bring to the question of friction of slight of conflict. Conventionally the Indonesians habit refer to a notion that good friends usually greet each other. Therefore, people in Indonesia often to have sweet nothings when they encounter in many places.
Furthermore, phatic communication contains two specific functions. Firstly , it may bond people to solidarity, and secondly, it brings people to live in harmony. Language tie to solidarity can be expressed in many ways, such as caring, greetings, thanking, and partings. Caring in Indonesia is quite specific. Foreigners often listen to odd or even silly questions and answers when people meet, they may say lagi ngapain (what are you doing) even more particulars like lagi belajar ya (are you studying), sedang antri ya, in which the reality is clearly seen as so. Such carings, including Mau ke mana? and Dari mana?, are inclined to achieve a mere solidarity. The one who asks knows the answer, and the answer always nodds or say yeah or something aggreeing. Unlike solidarity, harmonization function may refer to the public terms like flowery words, lip services, diplomatic language, rethorics. You cannot avoid something different in your side but you have to say yes in order to keep your relation stable or vice versa. You would not say a promise to attend to his or her birthday party, but you have to because she or he ask you to. Such phatic communication emerge to conversation only for harmonization function.
From the language realities above, after all we could draw that basa-basi in Indonesian are not only for greetings like good morning, hello, and how are you, or partings such as good bye, see you again, just coined as pure basa-basi, but also for something polar, the idea does not follow the reality, just coined then as polar basa-basi. As matter of fact, the term basa-basi you might find is often be of the second category in mostly speaking. You may unconsciously listen to something phatic when you offer your Indonesian friend to have a drink of meal in a restaurant or somewhere else by responding, A.. nggak usah, terima kasih, like No, thank you. Actually rejecting an offer for the most of Indonesian does not mean it, except for a mere hospitality and courtesy. Culturally, they regard that direct-accepting towards an offer is not a polite sense. People have to assert the offer for more than once, until the the one being offered says okay, or express yes. I ever lost my chance to enjoy fried chicken somewhere in Padang, west Sumatera when I Practice such language habit. My Australian friend seemed to respect of my decision of my rejection, albeit he did not know that I was quite hungry at the moment.
It seems obviously that the utterances are exegerating, but such language use gives colour to the Indonesian culture. Culture is always forceful to the users. The users of the culture may come into an uncomfortable circumstances when they know that their friends to talk to belong to other culture. It is that the multiculturalism is unavoidable phenomenon in this global spot nowadays. But, probably, we may ask ourselves which culture could be dominated and which culture must be subordinated. Is it possible for win-win solution to the global culture existence? May be, people may choose to be straight forward to avoid culture ambiguities or we inquiry that we don’t need more hospitalization.
Friday, January 2, 2009
DANGDUT, BUDAYA POP INDONESIA YANG APOLITIK
Ketika saya menulis fenomena dangdut sebagai salah satu budaya populer Indonesia saat ini, seorang kawan datang dengan khabar bahwa ia pernah mengulas tentang topik yang sama di Bernas, dalam rubrik wacana dengan judul tulisan “Politik Dangdut”. Tulisan itu menarik bukan karena saya berpersepsi sama dengan penulisnya tetapi justru sebaliknya. Saya dengan tegas berpendapat berbeda dengan teman itu. Maaf, demikian realitasnya.
Di mana letak perbedaan itu? Pertama sang kawan menyatakan bahwa dari sekian jenis atraksi goyang, walt, Jive, Hustle, Tango, Rumba, Poco-Poco, Cha-cha-cha, disko, dan dangdut, dangdutlah yang paling tidak punya aturan, yang seenaknya, yang relatif kacau balau, semata-mata mengandalkan improvisasi. Kedua, sang kawan mencoba memasukkan dangdut itu sebagai salah satu cara berekspresi berkesenian dan berkebudayaan dalam fenomena politik Indonesia. Menurutnya, dunia politik kita yang relatif semrawut dapat dikorelasikan dari cara ekspresi kesenian dan kebudayaan kita yang ala dangdut itu, tidak punya aturan, seenaknya, kacau balau, penuh improvisasi. Ketiga, yang lebih eksplisit adalah analisis yang menyatakan bahwa Golkar ketika berkuasa dulu adalah representasi penyanyi dan penari politik dangdut. Karena sedang merasa di atas panggung, ia melakukan berbagai gerakan dan manuver yang seenaknya, sebab memang tidak ada aturan baku berpolitik yang dapat dijadikan acuan. Karena sedang di atas panggung itu, maka Golkar secara agresif mengajak massa penonton untuk juga bergoyang sesuai dengan wacana penyanyi/penarinya Kemudian, Panggung yang dulu dikuasai Golkar sekarang berubah. Yang naik panggung dan menjadi penyanyi dan sekaligus penari bukan lagi Golkar, melainkan massa masyarakat Indonesia. Dengan tafsiran ini, akhirnya Sang kawan menarik suatu tesis bahwa demikianlah politik kita sekarang.
Sedemikian amburadulkah dangdut dan politik kita? Saya ingin urun rembuk bahwa simpulan yang ditarik Sang kawan di atas tidak hanya keliru tetapi perlu diluruskan. Pertama, musik apapun tidak dapat dijadikan kambing hitam karena musik adalah bahasa universal yang dapat dan mestinya ditunggangi manusia, termasuk dangdut. Dangdut bisa menjadi elitis, masif, ritmis atau chaos karena unsur manusianya. Rapp sebuah musik yang pernah mendapat penilaian negatif dari seorang pejabat penting di rezim Orde Baru beberapa tahun yang lalu bukan karena musik itu sendiri, tetapi karena lirik-lirik yang dimuat dalam media musik itu anarkis, pornograsif, konfrontatis, dan lain-lain hal yang dianggap negatif, sehingga membuat musik itu diinterpretasikan negatif pula. Saya melihat logika yang salah antara sang kawan dan pejabat Orba ini.
Kedua, saya justru prihatin dengan nalar kawan di atas, kalau-kalau ia sudah terjebak dalam politik kambing hitam atas ketidakberhasilan politik ORBAnya. Atau jangan-jangan cara berpikir orba itu sudah merasuk dalam berjuta-juta orang mirip sang kawan yang senang mencari-mencari kambing hitam. Saya prihatin sekali. Musik adalah media audisi yang ditunggangi oleh lirik dan atribut tari-tarian. Dangdut, sebenarnya seperti halnya musik lain, menjadi universal karena dangdut bisa dinikmati hampir semua orang. Jepang ternyata menikmati musik ini, MTV juga mengimpor musik ini. Dalam catatan saya, terdapat beraneka program Televisi yang menayangkan musik dangdut seperti Anteve dengan “Video Musik Dangdut”, “Karaoke Dangdut”, dan “Dangdut AN”, RCTI dengan “Joget”, SCTV dengan “In Dangdut”, Indosiar dengan “Goyang Dangdut”, TVRI dengan “Dangdut Pro”, TPI dengan “In Dangdut”, “Top Dangdut” dan juga “Kuis Dangdut”, TransTV dengan “Di Goyang Dangdut (DiGoDa)nya, dst. Sangat banyak dan masif dibandingkan dengan musik lain di layar televisi yang sama. Oknum musikus atau penyanyi atau apalah atribut orangnya lebih bertanggung jawab akan efek yang ditimbulkannnya. Ketidakteraturan, kesemrawutan, dsb amat bergantung pada siapa bukan pada apa. Dangdut sebaliknya adalah barang suci yang mesti dikeramatkan, disakralkan oleh bangsa ini, karena dangdutlah salah satu atau satu-satunya aset publik Indonesia dalam seni musik. Jazz yang dulu berasal dari kaum kulit hitam jalanan toh menjadi sangat populer dan bahkan dipandang sebagai ‘trademark’ borju paling kurang di Indonesia. Kalau mau dibilang borju yah ngaku-ngakulah suka jazz atau jika tidak mulailah belajar mendengarkannya, mengoleksi kaset atau vcdnya, dsb.
Di samping politik kambing hitam, saya melihat warna hipokrisi cukup mengental dalam wacana publik kita, paling tidak seperti yang disuarakan sang kawan Mengapa? Ia sepertinya pura-pura menduga-duga, bahwa Dangdut yang diakui tidak hanya disenangi mereka yang katanya kelas bawah, tetapi ternyata baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi juga disenangi oleh yang katanya masyakat elit. Atau memang benar-benar tidak mengamati fenomena ini di televisi dengan lebih cermat atau menikmati dangdutnya, tetapi kuatir mengakuinya. Opsi-opsi tidak hendak menilai sang kawan tentunya melainkan secara lebih akademislah dilihat sebagai pilihan-pilihan. Dari sang kawan maupun bagian masyarakat yang disebutkan ada makna hipokrisi di situ. Saya juga kuatir jika musik dikonsumsi karena citra yang dibangun sementara kalangan. “Emang makan mereknya’ iklan ini saya kira lebih menjelaskan identitas diri di samping iklan ini jitu sebagai media promosi. Promosi buat musik dangdut justru tidak berada pada titik perjuangan lagi karena musik dangdut jika kita mau mengakui bahwa penggemar yang menonton televisi sudah ada di seluruh channel televisi Indonesia yang jam tayangnya sudah penuh. Bahkan jika diperhatikan jam tayangnya, premium time, dangdut termasuk program acara dengan rating tertinggi.
Politik hipokrisi kita ternyata tidak hanya merambah panggung politik riil dalam kalangan elitis, tetapi telah masuk dalam ruang-ruang publik. Ketika kita berutang dengan luar negeri kita pura-pura mengatakannya bantuan, itu sudah jelas dalam politik, tetapi ketika kita pura-pura pula tidak mengakui dangdut sebagai musik kita, kita menggoyang-goyangkan jempol kaki kita ketika menontonnya di televisi. Yang penting badannya tidak kelihatan. Saya lihat di sini bahwa sang kawan dll jika ada, dalam konteks dangdut ini justru terlalu banyak ‘berguru’ pada kaum elitis kita. Saya prihatin pula kalau generasi ini benar-benar tidak memfungsikan guru yang sebenarnya guru, buku-buku ilmu pengetahuan, sejarah itu sendiri dan alam tempat kita berguru.
Lebih tandas, berbicara tentang politik menurut saya justru memang bukan seirama kalau mau demokratis seperti musik waltz, hustle, cha-cha-cha yang disebutkan Sang kawan. Politik harus dibaca sebagai akvitas yang dinamis bukan statis apalagi uniformistis. Saya justru amat curiga bahwa si penulis betul-betul produk orde baru dengan kehendak penyeragamannya. Jika dangdut dipahami semrawut, kacau balau atau tidak teratur oleh penulis, saya tidak mengerti alasannya apa. Apakah ketika melihat musik Rock yang berasal dan berkembang dari negeri Elvis Presley itu lantas Sang kawan merasakan keteraturan dsb dengan sesuatu yang selalu positif, apalagi aliran mutakhir musik Metal yang menggunakan simbol tiga jarinya dan beratribut kepala tenkorak, kaos hitam legam dsb. itu. Atau apakah pengamatan sintetis belum berhasil dilakukan sehingga ia belum menemukan pola musik dangdut sehingga dikatakan tidak teratur?. Sebaliknya justru dangdut terlihat sebagai musik yang terpola dengan tarian pelan zig-zag-nya mengikuti lekuk huruf z seperti ‘ABG’ sekarang menggambarkan “Kasihan deh lo” dengan pasukan joget yang sering menyertainya dengan merapatkan kedua bibir sembari menipiskannya dan mengangkat tangan dengan gerakan-gerakan minimalis. Hemat saya, itulah inti tarian dangdut, dan letak kedinamisannya pada kreativitas pasukan joget yang kemudian memunculkan beragam varian gerakan. Inilah membuat dangdut sesungguhnya dinamis, jadi lebih demokratis, dan merakyat serta egalitarian. Gerakan inti yang sederhana ditambah lirik yang mudah dicerna menjadikan dangdut diterima lebih banyak rakyat. Karena itu sebenarnya dangdut itu sederhana dan sederhana itu, menurut aliran minimalis yang mengglobal saat ini, adalah kaya. Oleh karena minimalis menjadi fenomenal di dunia saat ini, saya juga yakin produk musik kita ini, akan menjadi musik dunia, seperti kita mempertahankan badminton bagi negara kita. Mengapa tidak apalagi kita harus berbangga seperti pencak silat, bahwa dangdut mengakar dari budaya kita, vox pupoli.
Di lain pihak, ada pikiran-pikiran kolektif yang semestinya harus dienyahkan dari kehidupan sosial budaya di negeri ini. Kognisi “Rumput tetangga lebih hijau daripada rumput di halaman sendiri” agaknya sudah mendarah daging bagi sebagian bangsa kita, karena kita seringkali tidak ingin mencintai aset bangsanya sendiri. Apakah dangdut karena semula berasal dari kalangan kelas bawah, kumuh dan terpinggirkan, maka dangdut dipandang sebelah mata dan dikambinghitamkan pula. Tidak hanya dangdut, cerita kancil, Abu Nawas, dan beberapa folklor lainnya juga acapkali disebut-sebut sebagai kambing hitam kebobrokan bangsa ini. Saya bukan sok nasionalis, apalagi chauvinis tetapi memang cara berpikir kita ini harus diperbaiki. Kalau kita sering berpikir negatif atau selalu memaknai sesuatu negatif, yang milik kita inferior dan yang milik orang lain lebih bagus seperti Walt, Cha-cha-cha, dst itu mungkin kita tidak pernah menjadi bangsa yang besar dan berpikir besar, serta jadinya tidak pernah memiliki sesuatu. Sebagian kita justru bangga pada McDonald, Kentucky Fried Chicken, Honda, dll. Sebaliknya, saya melihat dangdut berperan misalnya sebagai pembawa pesan yang luar biasa ketika dangdut dibawakan oleh Raja Dangdut Rhoma Irama, atau Ratu Dangdut Elvi Sukaesih, atau sang Kopi dangdut, Fazal Dath, Meggy Z, Cici Paramida hingga Inul Daratista dan Annisa Bahar yang begitu artistis dan entertainis. Dengan cerita Kancil justru jangan berhenti pada makna kebohongannya saja, tetapi justru bergerak pada prinsip edukatif bahwa berbohong itu tidak baik akhirnya si Kancil terperangkap lubang kebun mentimun sang petani, misalnya. Kebohongan adalah realitas, yang tanpanya tidak ada kejujuran dan pelajaran. Begitu pula dengan cerita Abu Nawas, dst. Saya ingin mengutip Simon Peres, jika ingin menjadi orang besar berpikirlah besar. Negara adikuasa berpikir adikuasa, teknologi informasi berpikir internet bukan intranet membuat mereka betul-betul menguasai. Dangdut bukan mustahil sebagai alat berpikir besar sebagai promosi bangsa besar ini.
Akhirnya, dangdut hendaknya dipandang sebagai industri musik, media, alat dan hasil karya manusia; dan harus diakui pula bahwa dangdut bukanlah penentu, atau pengambil keputusan. Yang menentukan dangdut itu adalah subyek pelakunya. Dangdut tidak ada hubungannya dengan politik, baik politik dangdut, atau dibalik sekalipun dangdut politik, apalagi menggambarkan politik kita seperti dangdut. Jikapun ada itu dicoba dibuat-buat oleh orang saja. Dangdut adalah bahasa universal penyampai pesan. Jadi, dangdut itu apolitik. Pengamatan Sang kawan pada acara Dansa Yo Dansa di TVRI itu belum layak dijadikan acuan untuk menilai dangdut sebagai kreasi musik yang semrawut, tidak teratur, dsb itu. Mudah-mudahan tulisan ini tidak membunuh kreativitas seniman dangdut dengan improvisasi, jika tidak yang muncul adalah pencemaran nama baik aliran musik, dan lebih fatal penyeragaman Panggung politik kita. Yang saya harus akui bahwa politik kita memang masih semrawut, kacau balau, dan egois dengan kepentingannya sendiri-sendiri. Namun saya optimis dan berharap para politisi kita justru mau belajar dari budayanya sendiri, belajar dari dangdut, karena dangdut tidak aneh-aneh, sederhana dan menghibur lagi menggairahkan hidup. Maju demokrasi!
Di mana letak perbedaan itu? Pertama sang kawan menyatakan bahwa dari sekian jenis atraksi goyang, walt, Jive, Hustle, Tango, Rumba, Poco-Poco, Cha-cha-cha, disko, dan dangdut, dangdutlah yang paling tidak punya aturan, yang seenaknya, yang relatif kacau balau, semata-mata mengandalkan improvisasi. Kedua, sang kawan mencoba memasukkan dangdut itu sebagai salah satu cara berekspresi berkesenian dan berkebudayaan dalam fenomena politik Indonesia. Menurutnya, dunia politik kita yang relatif semrawut dapat dikorelasikan dari cara ekspresi kesenian dan kebudayaan kita yang ala dangdut itu, tidak punya aturan, seenaknya, kacau balau, penuh improvisasi. Ketiga, yang lebih eksplisit adalah analisis yang menyatakan bahwa Golkar ketika berkuasa dulu adalah representasi penyanyi dan penari politik dangdut. Karena sedang merasa di atas panggung, ia melakukan berbagai gerakan dan manuver yang seenaknya, sebab memang tidak ada aturan baku berpolitik yang dapat dijadikan acuan. Karena sedang di atas panggung itu, maka Golkar secara agresif mengajak massa penonton untuk juga bergoyang sesuai dengan wacana penyanyi/penarinya Kemudian, Panggung yang dulu dikuasai Golkar sekarang berubah. Yang naik panggung dan menjadi penyanyi dan sekaligus penari bukan lagi Golkar, melainkan massa masyarakat Indonesia. Dengan tafsiran ini, akhirnya Sang kawan menarik suatu tesis bahwa demikianlah politik kita sekarang.
Sedemikian amburadulkah dangdut dan politik kita? Saya ingin urun rembuk bahwa simpulan yang ditarik Sang kawan di atas tidak hanya keliru tetapi perlu diluruskan. Pertama, musik apapun tidak dapat dijadikan kambing hitam karena musik adalah bahasa universal yang dapat dan mestinya ditunggangi manusia, termasuk dangdut. Dangdut bisa menjadi elitis, masif, ritmis atau chaos karena unsur manusianya. Rapp sebuah musik yang pernah mendapat penilaian negatif dari seorang pejabat penting di rezim Orde Baru beberapa tahun yang lalu bukan karena musik itu sendiri, tetapi karena lirik-lirik yang dimuat dalam media musik itu anarkis, pornograsif, konfrontatis, dan lain-lain hal yang dianggap negatif, sehingga membuat musik itu diinterpretasikan negatif pula. Saya melihat logika yang salah antara sang kawan dan pejabat Orba ini.
Kedua, saya justru prihatin dengan nalar kawan di atas, kalau-kalau ia sudah terjebak dalam politik kambing hitam atas ketidakberhasilan politik ORBAnya. Atau jangan-jangan cara berpikir orba itu sudah merasuk dalam berjuta-juta orang mirip sang kawan yang senang mencari-mencari kambing hitam. Saya prihatin sekali. Musik adalah media audisi yang ditunggangi oleh lirik dan atribut tari-tarian. Dangdut, sebenarnya seperti halnya musik lain, menjadi universal karena dangdut bisa dinikmati hampir semua orang. Jepang ternyata menikmati musik ini, MTV juga mengimpor musik ini. Dalam catatan saya, terdapat beraneka program Televisi yang menayangkan musik dangdut seperti Anteve dengan “Video Musik Dangdut”, “Karaoke Dangdut”, dan “Dangdut AN”, RCTI dengan “Joget”, SCTV dengan “In Dangdut”, Indosiar dengan “Goyang Dangdut”, TVRI dengan “Dangdut Pro”, TPI dengan “In Dangdut”, “Top Dangdut” dan juga “Kuis Dangdut”, TransTV dengan “Di Goyang Dangdut (DiGoDa)nya, dst. Sangat banyak dan masif dibandingkan dengan musik lain di layar televisi yang sama. Oknum musikus atau penyanyi atau apalah atribut orangnya lebih bertanggung jawab akan efek yang ditimbulkannnya. Ketidakteraturan, kesemrawutan, dsb amat bergantung pada siapa bukan pada apa. Dangdut sebaliknya adalah barang suci yang mesti dikeramatkan, disakralkan oleh bangsa ini, karena dangdutlah salah satu atau satu-satunya aset publik Indonesia dalam seni musik. Jazz yang dulu berasal dari kaum kulit hitam jalanan toh menjadi sangat populer dan bahkan dipandang sebagai ‘trademark’ borju paling kurang di Indonesia. Kalau mau dibilang borju yah ngaku-ngakulah suka jazz atau jika tidak mulailah belajar mendengarkannya, mengoleksi kaset atau vcdnya, dsb.
Di samping politik kambing hitam, saya melihat warna hipokrisi cukup mengental dalam wacana publik kita, paling tidak seperti yang disuarakan sang kawan Mengapa? Ia sepertinya pura-pura menduga-duga, bahwa Dangdut yang diakui tidak hanya disenangi mereka yang katanya kelas bawah, tetapi ternyata baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi juga disenangi oleh yang katanya masyakat elit. Atau memang benar-benar tidak mengamati fenomena ini di televisi dengan lebih cermat atau menikmati dangdutnya, tetapi kuatir mengakuinya. Opsi-opsi tidak hendak menilai sang kawan tentunya melainkan secara lebih akademislah dilihat sebagai pilihan-pilihan. Dari sang kawan maupun bagian masyarakat yang disebutkan ada makna hipokrisi di situ. Saya juga kuatir jika musik dikonsumsi karena citra yang dibangun sementara kalangan. “Emang makan mereknya’ iklan ini saya kira lebih menjelaskan identitas diri di samping iklan ini jitu sebagai media promosi. Promosi buat musik dangdut justru tidak berada pada titik perjuangan lagi karena musik dangdut jika kita mau mengakui bahwa penggemar yang menonton televisi sudah ada di seluruh channel televisi Indonesia yang jam tayangnya sudah penuh. Bahkan jika diperhatikan jam tayangnya, premium time, dangdut termasuk program acara dengan rating tertinggi.
Politik hipokrisi kita ternyata tidak hanya merambah panggung politik riil dalam kalangan elitis, tetapi telah masuk dalam ruang-ruang publik. Ketika kita berutang dengan luar negeri kita pura-pura mengatakannya bantuan, itu sudah jelas dalam politik, tetapi ketika kita pura-pura pula tidak mengakui dangdut sebagai musik kita, kita menggoyang-goyangkan jempol kaki kita ketika menontonnya di televisi. Yang penting badannya tidak kelihatan. Saya lihat di sini bahwa sang kawan dll jika ada, dalam konteks dangdut ini justru terlalu banyak ‘berguru’ pada kaum elitis kita. Saya prihatin pula kalau generasi ini benar-benar tidak memfungsikan guru yang sebenarnya guru, buku-buku ilmu pengetahuan, sejarah itu sendiri dan alam tempat kita berguru.
Lebih tandas, berbicara tentang politik menurut saya justru memang bukan seirama kalau mau demokratis seperti musik waltz, hustle, cha-cha-cha yang disebutkan Sang kawan. Politik harus dibaca sebagai akvitas yang dinamis bukan statis apalagi uniformistis. Saya justru amat curiga bahwa si penulis betul-betul produk orde baru dengan kehendak penyeragamannya. Jika dangdut dipahami semrawut, kacau balau atau tidak teratur oleh penulis, saya tidak mengerti alasannya apa. Apakah ketika melihat musik Rock yang berasal dan berkembang dari negeri Elvis Presley itu lantas Sang kawan merasakan keteraturan dsb dengan sesuatu yang selalu positif, apalagi aliran mutakhir musik Metal yang menggunakan simbol tiga jarinya dan beratribut kepala tenkorak, kaos hitam legam dsb. itu. Atau apakah pengamatan sintetis belum berhasil dilakukan sehingga ia belum menemukan pola musik dangdut sehingga dikatakan tidak teratur?. Sebaliknya justru dangdut terlihat sebagai musik yang terpola dengan tarian pelan zig-zag-nya mengikuti lekuk huruf z seperti ‘ABG’ sekarang menggambarkan “Kasihan deh lo” dengan pasukan joget yang sering menyertainya dengan merapatkan kedua bibir sembari menipiskannya dan mengangkat tangan dengan gerakan-gerakan minimalis. Hemat saya, itulah inti tarian dangdut, dan letak kedinamisannya pada kreativitas pasukan joget yang kemudian memunculkan beragam varian gerakan. Inilah membuat dangdut sesungguhnya dinamis, jadi lebih demokratis, dan merakyat serta egalitarian. Gerakan inti yang sederhana ditambah lirik yang mudah dicerna menjadikan dangdut diterima lebih banyak rakyat. Karena itu sebenarnya dangdut itu sederhana dan sederhana itu, menurut aliran minimalis yang mengglobal saat ini, adalah kaya. Oleh karena minimalis menjadi fenomenal di dunia saat ini, saya juga yakin produk musik kita ini, akan menjadi musik dunia, seperti kita mempertahankan badminton bagi negara kita. Mengapa tidak apalagi kita harus berbangga seperti pencak silat, bahwa dangdut mengakar dari budaya kita, vox pupoli.
Di lain pihak, ada pikiran-pikiran kolektif yang semestinya harus dienyahkan dari kehidupan sosial budaya di negeri ini. Kognisi “Rumput tetangga lebih hijau daripada rumput di halaman sendiri” agaknya sudah mendarah daging bagi sebagian bangsa kita, karena kita seringkali tidak ingin mencintai aset bangsanya sendiri. Apakah dangdut karena semula berasal dari kalangan kelas bawah, kumuh dan terpinggirkan, maka dangdut dipandang sebelah mata dan dikambinghitamkan pula. Tidak hanya dangdut, cerita kancil, Abu Nawas, dan beberapa folklor lainnya juga acapkali disebut-sebut sebagai kambing hitam kebobrokan bangsa ini. Saya bukan sok nasionalis, apalagi chauvinis tetapi memang cara berpikir kita ini harus diperbaiki. Kalau kita sering berpikir negatif atau selalu memaknai sesuatu negatif, yang milik kita inferior dan yang milik orang lain lebih bagus seperti Walt, Cha-cha-cha, dst itu mungkin kita tidak pernah menjadi bangsa yang besar dan berpikir besar, serta jadinya tidak pernah memiliki sesuatu. Sebagian kita justru bangga pada McDonald, Kentucky Fried Chicken, Honda, dll. Sebaliknya, saya melihat dangdut berperan misalnya sebagai pembawa pesan yang luar biasa ketika dangdut dibawakan oleh Raja Dangdut Rhoma Irama, atau Ratu Dangdut Elvi Sukaesih, atau sang Kopi dangdut, Fazal Dath, Meggy Z, Cici Paramida hingga Inul Daratista dan Annisa Bahar yang begitu artistis dan entertainis. Dengan cerita Kancil justru jangan berhenti pada makna kebohongannya saja, tetapi justru bergerak pada prinsip edukatif bahwa berbohong itu tidak baik akhirnya si Kancil terperangkap lubang kebun mentimun sang petani, misalnya. Kebohongan adalah realitas, yang tanpanya tidak ada kejujuran dan pelajaran. Begitu pula dengan cerita Abu Nawas, dst. Saya ingin mengutip Simon Peres, jika ingin menjadi orang besar berpikirlah besar. Negara adikuasa berpikir adikuasa, teknologi informasi berpikir internet bukan intranet membuat mereka betul-betul menguasai. Dangdut bukan mustahil sebagai alat berpikir besar sebagai promosi bangsa besar ini.
Akhirnya, dangdut hendaknya dipandang sebagai industri musik, media, alat dan hasil karya manusia; dan harus diakui pula bahwa dangdut bukanlah penentu, atau pengambil keputusan. Yang menentukan dangdut itu adalah subyek pelakunya. Dangdut tidak ada hubungannya dengan politik, baik politik dangdut, atau dibalik sekalipun dangdut politik, apalagi menggambarkan politik kita seperti dangdut. Jikapun ada itu dicoba dibuat-buat oleh orang saja. Dangdut adalah bahasa universal penyampai pesan. Jadi, dangdut itu apolitik. Pengamatan Sang kawan pada acara Dansa Yo Dansa di TVRI itu belum layak dijadikan acuan untuk menilai dangdut sebagai kreasi musik yang semrawut, tidak teratur, dsb itu. Mudah-mudahan tulisan ini tidak membunuh kreativitas seniman dangdut dengan improvisasi, jika tidak yang muncul adalah pencemaran nama baik aliran musik, dan lebih fatal penyeragaman Panggung politik kita. Yang saya harus akui bahwa politik kita memang masih semrawut, kacau balau, dan egois dengan kepentingannya sendiri-sendiri. Namun saya optimis dan berharap para politisi kita justru mau belajar dari budayanya sendiri, belajar dari dangdut, karena dangdut tidak aneh-aneh, sederhana dan menghibur lagi menggairahkan hidup. Maju demokrasi!
Thursday, January 1, 2009
TERBELAKANG
Setahu saya film AAC (Ayat-Ayat Cinta) yang disutradarai Hanung Bramantyo adalah film yang terbanyak ditonton orang sepanjang sejarah perfilman Indonesia. Angka 3,5 juta penonton AAC seperti dicatatkan media massa merupakan angka fantastis karena hampir sepertiga penduduk Jakarta. Yang menarik diperbincangkan adalah bahwa film ini ditonton oleh pejabat tinggi negara bahkan hingga presiden. Menariknya lagi kegiatan menonton film ini dirayakan oleh media massa yang seakan-akan bagian dari pekerjaan seorang kepala negara. Bagi saya perayaan media massa satu hal yang kurang menarik untuk diulas, sebaliknya mengikuti pola urutan antrian untuk menonton sebuah filem bagi para pejaba adalah suatu fenomena yang istimewa.
Saya ingin melihat bagaimana pola urutan ketika pejabat melakukan kegiatan. Waktu sebelum presiden menuju bioskop, kita telah diberitakan sebelumnya bahwa wakil presiden Jusuf Kalla lebih dulu menontonnya. Sebelum itu, BJ Habibie yang mantan presiden juga menontonnya jg menyempatkan diri. Secara simbolis, AAC telah berakhir karena telah diakhiri penontonannya oleh presiden berkuasa Susilo Bambang Yudoyono. Artinya pola urutan, yang tertinggi jabatan akan belakangan, yang terendah akan duluan.
Pola urutan semacam ini tidak tertulis dalam undang-undang tetapi bak ritual yang selalu dan mesti ditaati. Kalau kita cermati, pola urutan semacam ini terjadi pada praktik pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Pada setiap kegiatan yang dilakukan presiden, pasti sang presiden akan hadir belakangan. Ritual semacam ini seakan-akan diprotapkan sehingga diikuti hingga ke tingkat bawah. Saya pernah merasa suasana batin semacam itu ketika Soeharto berkuasa. Tiga kali pada tahun sama 1993, pada peristiwa perayaan 17 Agustus 1993, pidato kenegaraan di DPR 18 Agustus dan suatu kegiatan yang saya agak lupa bertempat di Gedung Megah Departemen Kehutanan yang juga dihadiri presiden. Pada semua acara itu, presiden akan hadir belakangan dan disambut kedatangan oleh hadirin dengan berdiri.
Pada waktu saya kuliah tahun 90an awal hampir tidak ada dosen yang datang di awal. Mereka datang belakangan bahkan terlambat dari jadwal kuliah yang semestinya. Kita jadi bertanya-tanya mengapa ritual ini harus diikuti? Jawaban orang pasti bahwa tradisi datang terlambat terlanjur ditinggikan martabatnya. Soalnya adalah apakah keterakiran, keterlambatan, belakangan bahkan keterbelakangan merupakan suatu yang tinggi.
(…bersambung……..)
Saya ingin melihat bagaimana pola urutan ketika pejabat melakukan kegiatan. Waktu sebelum presiden menuju bioskop, kita telah diberitakan sebelumnya bahwa wakil presiden Jusuf Kalla lebih dulu menontonnya. Sebelum itu, BJ Habibie yang mantan presiden juga menontonnya jg menyempatkan diri. Secara simbolis, AAC telah berakhir karena telah diakhiri penontonannya oleh presiden berkuasa Susilo Bambang Yudoyono. Artinya pola urutan, yang tertinggi jabatan akan belakangan, yang terendah akan duluan.
Pola urutan semacam ini tidak tertulis dalam undang-undang tetapi bak ritual yang selalu dan mesti ditaati. Kalau kita cermati, pola urutan semacam ini terjadi pada praktik pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Pada setiap kegiatan yang dilakukan presiden, pasti sang presiden akan hadir belakangan. Ritual semacam ini seakan-akan diprotapkan sehingga diikuti hingga ke tingkat bawah. Saya pernah merasa suasana batin semacam itu ketika Soeharto berkuasa. Tiga kali pada tahun sama 1993, pada peristiwa perayaan 17 Agustus 1993, pidato kenegaraan di DPR 18 Agustus dan suatu kegiatan yang saya agak lupa bertempat di Gedung Megah Departemen Kehutanan yang juga dihadiri presiden. Pada semua acara itu, presiden akan hadir belakangan dan disambut kedatangan oleh hadirin dengan berdiri.
Pada waktu saya kuliah tahun 90an awal hampir tidak ada dosen yang datang di awal. Mereka datang belakangan bahkan terlambat dari jadwal kuliah yang semestinya. Kita jadi bertanya-tanya mengapa ritual ini harus diikuti? Jawaban orang pasti bahwa tradisi datang terlambat terlanjur ditinggikan martabatnya. Soalnya adalah apakah keterakiran, keterlambatan, belakangan bahkan keterbelakangan merupakan suatu yang tinggi.
(…bersambung……..)
MERASA KAYA
Mana yang lebih baik merasa miskin atau merasa kaya? Adakah orang di negeri ini yang merasa kaya? Tentu saja ada. Bagaimana dengan orang yang merasa miskin? Ternyata kalau kita rasa-rasa ternyata lebih banyak yang merasa miskin. Di negeri ini banyak orang berprofesi meminta-minta, tangan di atas. Tidak hanya kalangan pengemis tetapi hingga pejabat. Pengemis meminta dengan tangannya pejabat meminta dengan proposal. Bahkan tradisi proposal sudah sampai di tingkat bawah dengan dalih membangun jalan, tempat ibadah, dsb.
Merasa kaya bisa dipandang secara positif sekaligus negatif. Positifnya orang yang merasa kaya tidak akan meminta-minta. Mereka bahkan ingin selalu memberi karena merasa berlebih. Namanya merasa tentu telah mengukur kerelatifan.
Di kantor saya, ada dosen senior yang selalu merasa kurang secara ekonomi padahal jika dibanding penghasilannya dengan yang dosen baru jauh lebih besar belum lagi proyeknya mengajar di pascasarjana, meneliti ini itu, yang tidak didapatkan dosen junior itu. Konon katanya biaya hidupnya tinggi karena anak dsb. Kebutuhan anak memang satu hal. Tetapi esensi yang penting adalah sikap merasa cukup. Merasa cukup memberi kesan pesimis, pasrah?
Jika negara dan rakyat kita merasa kaya, ini menjadi ”dopping” atau pil kemajuan karena kita mengawalinya dengan keoptimisan menjadi bangsa besar, bukan sombong. Mengawali hidup dengan tangan di atas, memberi bukan meminta. Ingat abraham lincoln tanayakan apa yang kau berikan pada negara bukan apa yang diberikan pnegara padamu?
Membangun bangsa dengan imej, dengan budaya, dengan peradaban memunculkan semangat dan mentalitas maju.
Memandang memberi utang lebih bonafid daripada berutang. Kinerja bagaimana memberi orang lain lebih banyak, memberi piutang lebih banyak bukan meminta dari orang lain atau mengatakan berutang lebih bonafid. Adalah teori ekonomi yang menyesatkan, propaganda pemilik modal atau yang mengaku kaya.
Merasa kaya bisa dipandang secara positif sekaligus negatif. Positifnya orang yang merasa kaya tidak akan meminta-minta. Mereka bahkan ingin selalu memberi karena merasa berlebih. Namanya merasa tentu telah mengukur kerelatifan.
Di kantor saya, ada dosen senior yang selalu merasa kurang secara ekonomi padahal jika dibanding penghasilannya dengan yang dosen baru jauh lebih besar belum lagi proyeknya mengajar di pascasarjana, meneliti ini itu, yang tidak didapatkan dosen junior itu. Konon katanya biaya hidupnya tinggi karena anak dsb. Kebutuhan anak memang satu hal. Tetapi esensi yang penting adalah sikap merasa cukup. Merasa cukup memberi kesan pesimis, pasrah?
Jika negara dan rakyat kita merasa kaya, ini menjadi ”dopping” atau pil kemajuan karena kita mengawalinya dengan keoptimisan menjadi bangsa besar, bukan sombong. Mengawali hidup dengan tangan di atas, memberi bukan meminta. Ingat abraham lincoln tanayakan apa yang kau berikan pada negara bukan apa yang diberikan pnegara padamu?
Membangun bangsa dengan imej, dengan budaya, dengan peradaban memunculkan semangat dan mentalitas maju.
Memandang memberi utang lebih bonafid daripada berutang. Kinerja bagaimana memberi orang lain lebih banyak, memberi piutang lebih banyak bukan meminta dari orang lain atau mengatakan berutang lebih bonafid. Adalah teori ekonomi yang menyesatkan, propaganda pemilik modal atau yang mengaku kaya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
