Thursday, January 1, 2009

MERASA KAYA

Mana yang lebih baik merasa miskin atau merasa kaya? Adakah orang di negeri ini yang merasa kaya? Tentu saja ada. Bagaimana dengan orang yang merasa miskin? Ternyata kalau kita rasa-rasa ternyata lebih banyak yang merasa miskin. Di negeri ini banyak orang berprofesi meminta-minta, tangan di atas. Tidak hanya kalangan pengemis tetapi hingga pejabat. Pengemis meminta dengan tangannya pejabat meminta dengan proposal. Bahkan tradisi proposal sudah sampai di tingkat bawah dengan dalih membangun jalan, tempat ibadah, dsb.

Merasa kaya bisa dipandang secara positif sekaligus negatif. Positifnya orang yang merasa kaya tidak akan meminta-minta. Mereka bahkan ingin selalu memberi karena merasa berlebih. Namanya merasa tentu telah mengukur kerelatifan.

Di kantor saya, ada dosen senior yang selalu merasa kurang secara ekonomi padahal jika dibanding penghasilannya dengan yang dosen baru jauh lebih besar belum lagi proyeknya mengajar di pascasarjana, meneliti ini itu, yang tidak didapatkan dosen junior itu. Konon katanya biaya hidupnya tinggi karena anak dsb. Kebutuhan anak memang satu hal. Tetapi esensi yang penting adalah sikap merasa cukup. Merasa cukup memberi kesan pesimis, pasrah?

Jika negara dan rakyat kita merasa kaya, ini menjadi ”dopping” atau pil kemajuan karena kita mengawalinya dengan keoptimisan menjadi bangsa besar, bukan sombong. Mengawali hidup dengan tangan di atas, memberi bukan meminta. Ingat abraham lincoln tanayakan apa yang kau berikan pada negara bukan apa yang diberikan pnegara padamu?

Membangun bangsa dengan imej, dengan budaya, dengan peradaban memunculkan semangat dan mentalitas maju.

Memandang memberi utang lebih bonafid daripada berutang. Kinerja bagaimana memberi orang lain lebih banyak, memberi piutang lebih banyak bukan meminta dari orang lain atau mengatakan berutang lebih bonafid. Adalah teori ekonomi yang menyesatkan, propaganda pemilik modal atau yang mengaku kaya.

No comments: