Setahu saya film AAC (Ayat-Ayat Cinta) yang disutradarai Hanung Bramantyo adalah film yang terbanyak ditonton orang sepanjang sejarah perfilman Indonesia. Angka 3,5 juta penonton AAC seperti dicatatkan media massa merupakan angka fantastis karena hampir sepertiga penduduk Jakarta. Yang menarik diperbincangkan adalah bahwa film ini ditonton oleh pejabat tinggi negara bahkan hingga presiden. Menariknya lagi kegiatan menonton film ini dirayakan oleh media massa yang seakan-akan bagian dari pekerjaan seorang kepala negara. Bagi saya perayaan media massa satu hal yang kurang menarik untuk diulas, sebaliknya mengikuti pola urutan antrian untuk menonton sebuah filem bagi para pejaba adalah suatu fenomena yang istimewa.
Saya ingin melihat bagaimana pola urutan ketika pejabat melakukan kegiatan. Waktu sebelum presiden menuju bioskop, kita telah diberitakan sebelumnya bahwa wakil presiden Jusuf Kalla lebih dulu menontonnya. Sebelum itu, BJ Habibie yang mantan presiden juga menontonnya jg menyempatkan diri. Secara simbolis, AAC telah berakhir karena telah diakhiri penontonannya oleh presiden berkuasa Susilo Bambang Yudoyono. Artinya pola urutan, yang tertinggi jabatan akan belakangan, yang terendah akan duluan.
Pola urutan semacam ini tidak tertulis dalam undang-undang tetapi bak ritual yang selalu dan mesti ditaati. Kalau kita cermati, pola urutan semacam ini terjadi pada praktik pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Pada setiap kegiatan yang dilakukan presiden, pasti sang presiden akan hadir belakangan. Ritual semacam ini seakan-akan diprotapkan sehingga diikuti hingga ke tingkat bawah. Saya pernah merasa suasana batin semacam itu ketika Soeharto berkuasa. Tiga kali pada tahun sama 1993, pada peristiwa perayaan 17 Agustus 1993, pidato kenegaraan di DPR 18 Agustus dan suatu kegiatan yang saya agak lupa bertempat di Gedung Megah Departemen Kehutanan yang juga dihadiri presiden. Pada semua acara itu, presiden akan hadir belakangan dan disambut kedatangan oleh hadirin dengan berdiri.
Pada waktu saya kuliah tahun 90an awal hampir tidak ada dosen yang datang di awal. Mereka datang belakangan bahkan terlambat dari jadwal kuliah yang semestinya. Kita jadi bertanya-tanya mengapa ritual ini harus diikuti? Jawaban orang pasti bahwa tradisi datang terlambat terlanjur ditinggikan martabatnya. Soalnya adalah apakah keterakiran, keterlambatan, belakangan bahkan keterbelakangan merupakan suatu yang tinggi.
(…bersambung……..)
Thursday, January 1, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

2 comments:
bagus, pak. sekarang fenomena terbaru adalah film laskar pelangi. Banyak pejabat yang merasa bangga karena disinggung dalam film itu. Bahkan ketua PP Muhamadiyah, Din Syamsuddin, mengharuskan pengikut Muhammadiyah untuk menonton film itu, karena SD yang digambarkan dalam film itu adalah SD Muhamadiyah. Namun demikian, mengapa tidak ada rasa malu pada mereka, tetapi malah justru bangga? PAdahal film itu menggambarkan manajemen pendidikan yang buruk, dan sesungguhnya sebagai kritik untuk mereka. Itulah, bangsa kita memang ironis.
demikian juga halnya dengan film laskar pelangi, pak..
Post a Comment